Tanamkan Kebiasaan Sholat Dhuha Dipimpin Langsung KH. Nurul Islam

Written By Pragev Pralistya on Rabu, 10 Januari 2018 | 18.37.00

Tanamakan Kebiasaan Sholat Dhuha Dipimpin Langsung KH. Nurul Islam, pagi itu seperti biasanya peserta didik darul ulum memulai kegiatan dengan membaca Al-Qur'An yang dilanjutkan dengan sholat duha berjama'ah. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menamkan kebiasaan ibadah sholat dhuha kepada para siswa dan siswi MI Darul Ulum Rejomulyo.

Tanamakan Kebiasaan Sholat Dhuha Dipimpin Langsung KH. Nurul Islam

Sholat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat banyak sekali manfaatnya. Mungkin selama ini banyak yang belum paham manfaat dari sholat dhuha, manfaat dan keutamaan dari sholat dhuha sebagai berikut :

Sholat Dhuha = Mengganti Sedekah Dengan Seluruh Persendian

Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at. (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi) Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, "Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at" (Syarh Muslim, 5: 234). Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus” (Nailul Author, 3: 77).

Tanamakan Kebiasaan Sholat Dhuha Dipimpin Langsung KH. Nurul Islam

Shalat Dhuha = Akan Dicukupi Urusan di Akhir Siang

Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118) At Thibiy berkata, “Yaitu engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai setelah engkau shalat hingga akhir siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di akhir siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

Shalat Dhuha = Mendapat Pahala Haji dan Umrah yang Sempurna
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

; « مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ 

Artinya : Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna. (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Al Mubaarakfuri rahimahullah dalam Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi (3: 158) menjelaskan, “Yang dimaksud ‘kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at’ yaitu setelah matahari terbit. Ath Thibiy berkata, “Yaitu kemudian ia melaksanakan shalat setelah matahari meninggi setinggi tombak, sehingga keluarlah waktu terlarang untuk shalat. Shalat ini disebut pula shalat Isyroq. Shalat tersebut adalah waktu shalat di awal waktu."

Tanamakan Kebiasaan Sholat Dhuha Dipimpin Langsung KH. Nurul Islam

Sholat Dhuha = Termasuk Shalat Awwabin (Orang yang Kembali Taat)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
 لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

Artinya : Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin. (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 164)
Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali taat” (Syarh Shahih Muslim, 6: 30).
Demikianlah beberapa manfaat dan keutamaan sholat dhuha, semoga peserta didik dan seluruh guru MI Darul Ulum Rejomulyo tetap istiqomah dalam menunaikan ibadah sholat dhuha.

Setelah sholat dhuha sebelum dtitutup dengan doa KH. Moch. Nurul Islam memberi sedikit pembinaan kepada siswa, yang intinya adalah bahwa setiap siswa-siswi harus senantiasa menjaga ibadah sholat, terutama sholat wajib harus dilaksanakan. Dalam melaksanakan sholat tidak boleh sembarangan dan main-main. Jika sholat kok dibuat mainan, berati sama saja kita mengihina Allah sebab perintah sholat adalah perintah langsung dari Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW tanpa melalui perantara malaikat jibril.
Barang siapa kok menghina Allah sama saja termasuk golongan orang-orang kafir. Jadi mari tegakan ibadah sholat.
Kegiatan ditutup dengan doa serta bersalam-salaman peserta didik dengan bapak ibu guru.
Blog, Updated at: 18.37.00

0 komentar:

Posting Komentar