Membedah Sejarah Leluhur Tarekat Syattariyah Akmaliyah

Written By Pragev Pralistya on Sabtu, 12 Agustus 2017 | 06.44.00

Malam itu Sabtu 12 Agustus 2017 bertepatan dengan Mujahadah rutin ahad kliwon suasana agak sedikit berbeda. Yang mana pada kegiatan tersebut berlangsung pula pengajian Mauidhoh hasanah Dr. KH. Dhiyaudin Qhuswandi dari malang. Acara dimulai setelah sholat isa', K. MOCH. Nurul Iman mengawali kegiatan acara tersebut dengan lantunan istigfaran peninggalan KH. Abdurahman Tegalrejo.

Menyambung istigfaran Gus Ilham putra KH. MOCH NURUL ISLAM melantunkan bacaan ayat suci Al-Qur'AN. Acara dilanjutkan dengan sambutan oleh KH. MOCH. NURUL ISLAM selaku mursyid dan pengasuh Pondok pesantren Darul Ulum Rejomulyo.
Belia menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua yang hadir, terutama kepada para mursyid Tarekat Syattariyah yang hadir pada malam itu. 

" Saya ucapkan banyak terima kasih kepada seluruh yang hadir dalam acara ini, terutama kepada para mursyid, KH. Curigo Guritno dari Ponorogo, KH. Dr. Dhiyaudin Qhuswandi dari malang, KH. Faturohman Sarimbit dari Pati."

Meskipun rencana awal acara tersebut juga akan kedatangan Ketua umum dan Sekjen Jatmi Pusat serta dosen UIN Syarief Hidayatullah, namun karena sesuatu hal maka ketiganya berhalangan hadir. Namun hal tersebut tidak mengurangi khidmat dan meriahnya acara mujahadah yang dilanjutkan pengajian tersebut.

Membedah Sejarah Leluhur Tarekat Syattariyah Akmaliyah

Dalam sambutanya KH. MOCH. Nurul Islam sempat sedikit membedah dan bercerita mengenai sejarah silsilah Tarekat Syattariyah Akmaliyah yang ada di wilayah magetan.
"Syattariyah merupakan awal dari sejarah penyebaran agama islam mulai dari tanah pasai sampai dengan tanah jawa.  
Membedah Sejarah Leluhur Tarekat Syattariyah Akmaliyah
KH. Nurul Islam Saat Memberikan Sambutan

seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwasanya Tarekat syattariyah di magetan dilestarikan oleh seorang ulama yang bernama KH. Abdurahman Tegalrejo. sebelum KH. Abdurrahman menetap di tegalrejo kecamatan Semen, beliau bernama K. Nur Basori yang bertempat tinggal di Mawatsari Banjarsari Kabupaten Madiun. Berdasarkan sejarah yang dirilis oleh ahli waris, beliau meninggalkan Banjarsari sekitar tahun 1820. Sementara itu berdasarkan keterangan dari kitab yang ditinggalkan oleh KH. Abdurahman beliau ketika masih menggunakan nama Kyai Nur Basori medarake (mengajarkan) tarekat akmaliyah. Tarekat akmaliyah yang beliau pake adalah akmaliyah yang silsilahnya dari jalur sunan Ngampel. 

Membedah Sejarah Leluhur Tarekat Syattariyah Akmaliyah
Mursyid Tarekat Syattariyah yang hadir dalam Acara Pengajian

Setelah 20 Tahun beliau pergi berkelana hingga sampai di surakarta bertepatan dengan perang diponegoro beliau mendapatkan amanah untuk menjadi bupati. Tahun 1832 KH. Abdurahman kembali berkelana dan sampailah beliau di sebuah wilayah yang merupakan gabungan dari beberapa kadipaten pada waktu itu. Ketika berkelana beliau memakai nama samaran yaitu Bagus Bancalana. Di tegalrejo KH. Abdurahman babat mulai tahun 1835 sampai dengan beliau meninggal dan akhirnya dimakamkan di Tegalrejo Semen kabupaten Magetan.

Nama Abdurahman merupakan nama dari putra beliau yang meninggal saat masih kecil dan dimakamkan di Mawatsari. Setelah melaksanakan ibadah haji beliau menggunakan "KH. Abdurahman" kemudian nama "Nur Basori" diberikan kepada putra ketujuh yang bernama mbah "Iskaq".
Tahun 1897 KH. Abdurahman meninggal dan dimakamkan di belakang masjid Tegalrejo yang menjadi pusat penyebaran tarekat syattariyah akmaliyah.

Membedah Sejarah Leluhur Tarekat Syattariyah Akmaliyah

KH. MOCH Nurul Islam juga menjelaskan mengenai dasar terciptanya Tarekat Syattariyah Akmaliyah.
Tarekat syattariyah akmaliyah dilahirkan atas dasar 9 Qoidah yaitu : 
  1. akidah ahlu sunnah wal jamaah.
  2. Menuju Ampunan Allah
  3. Mensyukuri Nikmat
  4. Taubatan Nasuha
  5. Melaksanakan Sunah Rasulullah SAW dan Syariat Islam
  6. Menegakan pribadi Al-Qur'An
  7. Membentengi Keyakinan
  8. Mengenal Jati Diri
  9. Berpasrah diri kepada Allah SWT.
 Seiring berkembangnya Tarekat Syattariyah Akmaliyah kemudian dari kata "Tarekat", "Syattariyah","Akmaliyah" lahirlah sebuah organisasi yang sangat melegenda yaitu "Pesantren Sabilil Mutaqien" dengan 3 semboyan siatu "Ilmu", "Amal", dan "Taqwa" yang sampai sekarang juga digunakan oleh 5 lembaga dibawah naungan Yayasan Darul Ulum yaitu Pondok Pesantren, MA, MI, TK, dan PAUD Darul Ulum Rejomulyo.

Yang juga harus diketahui oleh para jamaah adalah ketika sepeninggalnya KH. Abdurahman beliau menginggalkan wasiat yang dimuat dalam kitab yang ditulis oleh KH. Abdurahman sendiri yang berisikan orang-orang yang diberi wewenang meneruskan kemursyidan Tarekat Syattariyah Akmaliyah. Ada 4 orang yang diberi wewenang didalam wasiat KH. Abdurahman diantaranya adalah :
  1. KH. Harjo Basori
  2. Mbah Nur Basori
  3. Kyai Sari Muhammad
  4. KH. Hasan Ulama.
Sementara itu KH. MOCH Nurul Islam mendapat sanad kemursyidan dari Mbah Nur Basori, yang berkelanjutan sampai dengan K. Imam Fauzi ayahanda dari KH. MOCH. Nurul Islam.
Itulah sedikit sejarah mengenai Silsilah Tarekat Syattariyah Akmaliyah di wilayah kabupaten magetan khususnya silsilah dari Mursyid Tarekat Syattariyah Akmaliyah Ponpes Darul Ulum Rejomulyo. 

Tak lupa dalam sambutanya beliau KH. MOCH Nurul Islam juga menyinggung sedikit mengenai Pasamuan Agung Mursyid Tarekat Syattariyah yang telah berlangsung bulan oktober tahun lalu.
" Saya ucapkan banyak terima kasih kepada KH. Dr. Dhiyaudin Qhuswandi yang sudah berkenaan hadir kembali disini, perlu hadirin ketahui bahwasanya beliaulah : Dr. KH. Dhiyaudin yang telah menjadi inisator lahirnya gagasan untuk menyelenggarakan acara Pasamuan Agung tersebut. Bahwsanya Acara yang sudah digelar kemaren akan ada tindak lanjut dan insya Allah akan digelar kembali tahun depan".

Patut kita nantikan acara tersebut beliau juga memohon doa hadirin dan seluruh masyarakat serta para jemaah agar acara pasamuan tersebut kembali terselenggara demi kelestarian Tarekat Syattariyah.

Simak Videonya disini :
Blog, Updated at: 06.44.00

0 komentar:

Posting Komentar