Diskusi Kedua Persiapan Pasamuan Agung Mursyid Syattariyah

Written By Pragev Pralistya on Rabu, 14 September 2016 | 18.25.00

Diskusi Kedua Persiapan Pasamuan Agung Mursyid Syattariyah - Setelah 28 Agustus lalu Panitia bersama beberapa Mursyid Tarekat Syattariyah melakukan diskusi, kemarin pada hari Minggu 11 September 2016 Panitia, beberapa mursyid serta jamaah dari ponpes Darul Ulum Rejomulyo melakukan diskusi kembali. Diskusi kali ini dihadiri oleh Kapolsek, Camat, serta kepala Desa Rejomulyo.
Topik diskusi tersebut adalah memaparkan agenda kegiatan yang hendak diselenggarakan oleh paniti Pasamuan Agung Mursyid Tarekat Syattariyah Nusantara kepada para pemangku jabatan yang mewakili pemerintahan.

Seperti biasa diskusi dibuka oleh ketua panitia yaitu Mas Supriyadi dilanjutkan dengan sambutan KH. Moch Nurul Islam. Beliau mengutarakan Pertemuan diskusi kali ini merupakan tindak lanjut dari diskusi pertama pada tanggal 28 Agustus kemarin. Dalam agenda diskusi kali ini akan dijelaskan mengenai Pasamuan Agung tersebut kepada Pimpinan yang mewakili pemerintahan yaitu Kepala Desa, Kepala Kecamatan, dan Kapolsek. Beliau berpesan kepada panitia agar disampaikan pokok-pokok inti acara yang akan diselanggarakan. Mengenai detail teknis akan dibahas dalam pertemuan selanjutnya.
Diskusi Kedua Persiapan Pasamuan Agung Mursyid Syattariyah

Sambutan berikutnya oleh KH. Muhammad Nur Warji dari Grobokan yang mana beliau sempat memberikan sedikit ilmu mengenai dasar-dasar syattariyah kepada yang hadir dalam pertemuan tersebut. Tarekat bukan merupakan sebuah aliran melainkan adalah sebuah tingkatan. Tidak bisa dikatakan kita selamat atau islam apabila kita tidak bersatu, terserah ada yang bilang sesat, bid'ah atau apa saja yang penting kita jangan ikut-ikut mengatakan sesat atau mudah mencap sesat kepada sesuatu hal. Kita harus menjadi pengayom, menjadi wadah. Setidaknya kita memahami aturan-aturan dari firqoh lain. oleh karena itu marilah kita bersatu.

Diskusi Kedua Persiapan Pasamuan Agung Mursyid Syattariyah
Berikutnya tidak bisa dikatakan jama'ah kalau kita kita tidak memiliki pimpinan, dimana-mana harus ada pimpinanan dalam hal apapun harus ada pemimpin, sholatpun harus ada yang memipin.
Tidak dikatakan kita punya pimpinan kalau kita tidak Baiat, Baiat dalam arti sumpah setia. Sumpah melakukan islam yang disampaikan, selanjtnya tidak dikatakan dibaiat kalau kita tidak setia.
Demikian kurang lebih yang disampaikan oleh KH. Muhammad Nurwarji.

Sambutan selanjtnya pemaparan dari KH. Dr. Dhiyauddin Qhuswandi dari malang. Acara Pasamuan Agung tersebut juga dalam rangka meruwat nusantara agar bisa segera lepas dari permasalahan-permasalahan yang sedang dihadapi saat ini. beliau bercerita 5 tahun lalu negara indonesia merupakan negara terkriminal urutan kelima didunia setelah Kuba. Hal ini yang menjadikan tidak pantas dan tidak patut bagi negara yang sebagian besar mayoritas beragama islam. Yang tidak kalah memprihatinkan adalah problem menjamurnya gerakan-gerakan radikal, terorisme dan perpecahan umat serta bangsa.
Diskusi Kedua Persiapan Pasamuan Agung Mursyid Syattariyah

darisinilah akan kita mulai meruwat nusantara melalui kehidupan spiritualisme. Membangkitkan kembali nilai-nilai spritualisme sebagaimana dahulu bangsa ini dibangun melalui gerakan-gerakan semangat spritualisme. Spiritualisme merupakan pusaka bangsa yang mengandung nilai-nilai sejarah yang luar biasa.
Islam di nusantara merupakan islam yang bercorak tasawuf /kesufian. Hal inilah yang nampaknya berkurang dimasa kini, dimana pada masa kini islam hanya berhenti sampai dengan syariat saja. Kedudukan agama dan dunia seperti ruh dan jasad. Kalau roh meninggalkan jasad maka jasad akan rusak. Demikian juga dengan dunia ini jika agama sudah ditinggalkan maka dunia akan rusak.

Selama ini bangsa indonesia telah diruwat dengan berbagai cara. Melalui pendekatan Politik tidak berhasil pendekatan ekonomi juga tidak berhasil, demikian juga dengan sosial budaya. Maka kita akan coba bangkitkan kembali spiritualitas melalui Tasawuf.
Diskusi Kedua Persiapan Pasamuan Agung Mursyid Syattariyah

Selanjutnya selain problem bangsa indonesia juga problem umat islam sendiri yang harus mendapat perhatian khusus. Ada 3 problem umat islam yaitu pemahan islam yang dangkal yang berhenti pada tatanan syariat. Sehingga muncul istilah STMJ (Sholat Tapi Maksiat Jalan), karena yang disembah hanya nama tetapi tidak kenal dengan yang di namai. Problem berikutnya adalah semangat keduniawian dimana dalam era modern ini mayoritas umat muslim sudah sangat mencintai keduniawian sehingga lupa dengan kehidupan spritualitasnya.
Problem ketiga adalah krisisnya kepemimpian.

Syattariyah sangat berperan strategis dalam mengislamkan wilayah nusantara. Islam datang ke nusantara disebar oleh para sufi tarekat syattariyah. baru kemudian muncul qadriyah kemudian naqsabandriyah. Kraton- kraton dinusantara  semua syattariyah, oleh karena itu kita harus memulai semangat ini, semangat kesufian.

Tarekat Syattariyah memang mengalami surut, namun surutnya tarekat syattariyah ini dikarenakan faktor sejarah dimana tarekat ini sudah ada sejak sebelum bangsa ini merdeka. Jadi pada saat masa penjajahan banyak sekali tokoh pergerakan yang melawan penjajah adalah seorang syattariyah. Sehingga mereka diburu oleh belanda hingga akhirnya mereka sembunyi di gunung-gunung dan hutan belantara. Didalam pelarianya mereka tidak tinggal diam, sebenarnya mereka masih menyebarkan ajaran islam melalui tarekat syattariyah namun secara lirih atau sembunyi sembunyi dalam bahasa jawa glenik-glenik yang sering diplesetkan menjadi istilah klenin (lirih/pelan-pelan). Ajaran tarekat akhirnya tidak / jarang yang diajarkan / jauh dari pesantren, sehingga muncul beberapa golongan yang katanya meninggalkan syariat. padahal hal itu tidak mungkin dalam berislam kita meninggalkan syariat. terdapat catur sembah yaitu sembah raga, Sembah Cipto, Sembah Jiwa, dan Sembah Rasa. Jika semua ilmu syattariyah dipahami dengan menyeluruh maka tidak mungkin akan dikatak sesat.

KH. Dr. Dhiyauddin juga menceritakan sedikit sejarah Syekh Jumadil Kubro yang merupakan Waliullah yang mendapatkan langsung ilmu syattariyah dari Syekh Abdullah Syattar. Syekh Jumadil Kubro inilah yang konon telah melahirkan wali-wali dinusantara.

Selanjutnya sambutan dari kapolsek kecamatan barat yang mengutarakan sangat mendukung acara Pasamuan Agung tersebut, jajaran kepolisian akan berusaha semaksimal mungkin dalam ikut menyukseskan acara tersebut dalam hal ini khusus masalah pengamanan. Bapak kapolsek mengutarakan bahwa pihaknya akan menyiapkan pengamanan setingkat VVIP karena acara tersebut akan dihadir Para Kyai, Ulama Pejabat pemerintahan diantaranya Gubernur Jawa Timur Sukarwo, Menpora dan masih banyak lagi lainya.

Dalam diskusi tersebut juga telah disepakati penambahan acara yaitu pentas seni pencak silat dan gema sholawat. Selain penambahan agenda acara permasalahan pendanaan juga harus segera diselesaikan. Proposal dan undangan juga telah disebar semoga akan berjalan lancar sesua yang diharapkan.
Bagi siapa saja yang ingin berinfaq demi kesusksesan acara tersebut dipersilahkan.
Acara diskusi ditutup dengan doa, rencanya diskusi masih akan digelar lagi dalam hal teknis detail perencanaan kegiatan Pasamuan Agung Mursyid Thoriqoh Syathoriyah Nusantara tersebut.
( Rejomulyo,  11 September 2016 )
Blog, Updated at: 18.25.00

2 komentar: